Langsung ke konten utama

Di Sabtu yang Bersejarah itu, Beliau Menangis

 Di Sabtu yang Bersejarah itu, Beliau Menangis


 

Masjid Jami dari samping

Aku menangkap atmosfer berbeda menyelimuti masjid Jami. Beberapa orang gadis bermukena putih dengan sajadah tersampir di pundak berlalu lalang, sibuk mengangkat dan memindahkan tiang satir pembatas shaf. Ujungnya yang menggesek lantai menimbulkan suara mendecit-decit mengilukan pendengaran, bagaikan suara biola tua raksasa yang telah rusak. Perlahan-lahan, terlihat ribuan makhluk dari bani adam duduk berdesak-desakan di depan mimbar. Beberapa mata mencuri pandang ke arah kami, para santriwati. 

Hampir semua wajah yang hadir saat ini menampilkan sebuah ekspresi yang sama. Gelisah, penasaran, gerah, terheran-heran. Bagaiman tidak, kami semua mengetahui, satir pembatas masjid tidak pernah dibuka, kecuali pada setiap pagi di hari Jum'at, dalam majelis bernama ta'lim mudir, atau dalam setiap acara seminar. Pasalnya ini adalah Sabtu, bukan saat yang tepat untuk ta'lim mudir, dan jam menunjukkan angka 12.30 siang.

Aku memicingkan mata, menunggu. Beberapa menit lalu, seorang pengurus dari bagian ibadah, mengumumkan, akan ada pemberitahuan yang akan disampaikan langsung oleh mudir kami. Namun pemberitahuan apa? Pentingkah? Ah, aku jadi teringat khobar-khobar yang beberapa hari ini selalu menjadi pokok pembicaraan santriwati di asrama. Terutama hal yang sedari pagi terus menerus dibicarakan oleh kakak kelas ketika kami sama-sama bertugas menjadi resepsionis penerimaan tamu. Tentang perpulangan mendadak dalam hitungan beberapa hari ke depan karena wabah virus baru yang sekejap menyedot perhatian hampir seluruh penduduk dunia, COVID 19. Entahlah, yang aku tahu, kabar itu masih menjadi qila wa qola.

Tiba-tiba, masjid perlahan senyap. Suara orang-orang saling berbisik layaknya dengung lebah tak lagi terdengar. Hampir lebih dari 2000 pasang mata menatap ke arah depan. Sosok lelaki tua berkacamata dengan baju koko putih, sarung bermotif kotak-kotak, berkopiah hitam menghiasi kepala terduduk di belakang meja di samping mimbar. Janggutnya memutih, dengan gurat kebijaksanaan, hampir selalu sama di wajahnya yang menua seakan-akan beliau telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk pondok. Kami hanya terdiam, menunggu wejangan apa yang akan beliau sampaikan.

Mic dinyalakan, sebuah salam terlantun hingga sudut-sudut pilar masjid. Disambut jawaban kami. 

Tak banyak ucapan beliau yang aku ingat. Hanyalah sepatah kalimat yang masih terngiang hingga hari ini.

"...yang perlu anak-anak tahu, saat ini pondok dalam masa sulit, situasi pandemi yang semakin hari semakin meningkat," perkataan beliau terputus sebentar.

"Kami ingin sekali mempertahankan anak-anak di pesantren ..." seketika, suara isak tangis terdengar. Bukan, bukan dari para santri yang tidak tahan dengan rasa gerah berdesakan, tapi dari sosok bersorban di hadapan kami. Beliau menangis! Seketika suasana sunyi dan senyap. Beliau menangis, dan tangis beliau bukanlah karena perihal dunia, tapi perwujudan ketulusan hati, dari palung keridhaan yang paling dalam, melebur dengan keikhlasan dalam mengurus kami.

"Kami ingin sekali menjaga anak-anak." Aku terdiam seribu bahasa menyaksikan sesuatu yang belum pernah aku lihat seumur hidup. 

Lamat-lamat, beliau melanjutkan wejangannya, "karena memulangkan anak-anak ke dunia luar yang sedang dilanda wabah, itu sebuah resiko besar. Tapi dengan terpaksa kami mengeluarkan kebijakan, memulangkan seluruh santri selama 2 minggu."

Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, karena aku harus segera meninggalkan masjid, untuk melanjutkan tugas piket. Di sepanjang perjalanan menuju wisma, aku memikirkan apa yang akan terjadi beberapa hari ke depan. Akankah pondok kembali sunyi seperti liburan-liburan yang telah lalu? Ah, agaknya, "dipaksa" sunyi adalah kata yang lebih tepat. Namun, tandatanya paling besar yang memenuhi benak adalah, akankah kami -para santri kader- masih harus tetap bertahan di sini? 

-To be Continued-

Komentar